Home » Uncategorized » Larangan Dalam Haji Dan Pengertian Dam

Larangan Dalam Haji

Bagi jemaah haji atau umrah terdapat larangan yang tidak boleh diabaikan. Larangan tersebut adalah sebagai berikut.

1) Larangan bagi jemaah haji laki – laki kenakan pakaian yang dijahit dan kenakan tutup kepala. 2) Larangan bagi jemaah perempuan kenakan tutup wajah dan sarung tangan.

Larangan bagi jemaah haji laki – laki dan perempuan antara lain kenakan wewangian, mencabut dan mencukur rambut dan bulu badan, memotong kuku, menikah atau jadi wali nikah, terjalin suami istri, memburu, membunuh binatang, bicara yang tidak senonoh, dan berbuat maksiat.

Pengertian dan Jenis Dam

Pengertian Dam berasal dari faktor bahasa ialah darah, yaitu denda yang dikenakan oleh jemaah haji yang melanggar larangan atau meninggalkan wajib haji atau umroh.

1. Melanggar pantang larang di dalam Ihram
2. Meninggalkan perkara-perkara yang wajib di dalam ibadah haji atau umrah
3. melakukan Haji Tamattu’ atau Haji Qiran, menurut syarat-syaratnya
4. Berlaku Ihsar bagi orang yang berniat ihram
5. Melanggar Nazar semasa mengerjakan haji
6. Luput Wuquf di Arafah
7. Meninggalkan Tawaf Wada’
Dam sebagai pengganti

Ada {beberapa|sebagian|lebih berasal dari satu} hal wajib saat laksanakan ibadah haji yang dapat digantikan bersama Dam sebagai tersebut ini:

1. Dam Hadyu.

Yaitu dam yang diwajibkan bagi mereka yang laksanakan haji Tamattu’ atau haji Qiran, dan jika tidak dapat belanja binatang hadyu, maka wajib laksanakan puasa sepanjang 10 hari. Tiga hari dilaksanakan terhadap masa haji dan yang tujuh hari dilaksanakan sehabis kembali ke kampung halaman.

Hal ini berdasarkan terhadap firman Allah Subhannahu wa Ta’ala :
“…Maka bagi siapa yang menghendaki mengerjakan ‘umrah sebelum haji (di di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) binatang hadyu yang enteng didapat. Tetapi jika ia tidak mendapatkan (binatang hadyu atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari di dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apa-bila anda telah pulang kembali…”

2. Dam Fidyah (tebusan).

Yaitu dam yang diwajibkan atas orang yang sedang di dalam ihram, lalu mencukur rambutnya sebab sakit atau sesuatu yang mengganggu kepalanya, seperti kutu dan lain sebagainya, berdasarkan terhadap firman Allah:
“…Maka jika ada di antara anda yang sakit atau ada problem di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya untuk berfidyah, yaitu berpuasa, bersedekah atau berkurban…”

Ayat ini ditafsirkan oleh Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam sebagaimana tersebut di dalam hadits Ka’ab bin ‘Ujrah Radhiallaahu anhu , ia berkata:

“Bahwasanya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam melewatinya terhadap masa Hudaibiyyah, lalu berkata: ‘Sungguh kutu kepalamu telah menggang-gumu?, Ia berkata: ‘Ya!’Maka beliaupun bersabda: ‘Cukurlah kemudian sembelih-lah seekor kambing atau berpuasalah tiga hari atau berilah makan berupa tiga sha’ kurma yang dibagikan kepada enam orang miskin.’”

3. Dam Jazaa’.

Yaitu dam yang wajib dibayar oleh orang yang sedang berihram sekiranya membu-nuh binatang buruan darat. Adapun bina-tang buruan laut, maka tidak ada dendanya.

4. Dam Ihshar.

Dam yang wajib dibayar oleh jama’ah haji yang tertahan atau terkepung sehingga tidak dapat menyempurnakan manasik hajinya, baik tertahannya disebabkan sebab sakit, terkendala oleh musuh atau sebab-sebab lainnya, saat dia tidak mengucapkan persyaratannya terhadap awal ihramnya. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhannahu wa Ta’ala
“… Maka jika anda terkepung (terhalang oleh musuh atau sebab sakit), sembelihlah binatang hadyu yang enteng didapat…”
5. Dam Jima’.
Yaitu dam yang diwajibkan kepada jama’ah haji yang bersama sengaja mengum-puli isterinya ditengah pelaksanaan iba-dah haji.

Dalam kitabnya “Ahkaamul Hajj” Syaikh ‘Abdullah bin Ibrahim al-Qar’awi menuturkan: “Adapun orang yang mengerjakan hal-hal yang menjerumuskan kepada jima’ (senggama), maka wajib bagi-nya menyembelih seekor kambing untuk para fuqara’ yang bermukim di tanah Haram. Adapun jima’, sekiranya dilaksanakan sebelum tahallul yang pertama (sebelum melempar jumratul ‘Aqabah,-Pent), maka perbuatan itu menyebabkan kerusakan (membatalkan) ibadah hajinya, hanya saja ibadah tersebut wajib ditambah dan wajib bagi pelakunya menyembelih seekor unta untuk dibagikan kepada para fuqara’ di tanah suci. Apabila tidak mendapatkan/tidak mampu, maka wajib berpuasa sepanjang se-puluh hari, tiga hari terhadap masa haji dan tujuh hari jika telah kembali kepada ke-luarganya. Hal ini berdasarkan terhadap pendapat ‘Umar (bin al-Khaththab), ‘Ali (bin Abi Thalib) dan Abu Hurairah Radhiallaahu anhu , se-bagaimana yang diriwayatkan oleh Malik dan yang lainnya. Demikian pula pendapat tersebut adalah pendapat ‘Abdullah bin ‘Abbas, ‘Abdullah bin ‘Umar dan ‘Abdul-lah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiallaahu anhu , sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ahmad, al-Hakim serta ad-Daruqthni dan yang lainnya berasal dari mereka.”

I. Fungsi Haji

Diantara fungsi haji adalah sebagai berikut.

a. Hikmah Haji Secara Umum

1) Pernyataan ketaatan seorang kepada Tuhannya.

2) Ibadah haji merupakan layanan untuk menunjukkan kebesaran Allah.

3) Ibadah haji merupakan ujian iman

4) Ibadah haji merupakan kongres akbar

5) Ibadah haji memberi tambahan jaminan yang besar berasal dari Allah berupa ampunan berasal dari dosa dan surga.

6) Mempererat ukuwah Islamiyah antarsesama muslim berasal dari berbagai penjuru dunia.

7) Perwujudan solidaritas Islam yang tidak terbatas oleh suku, bangsa, ras, kulit, dan negara.

b. Hikmah Haji Bagi Pelakunya

1) Memperteguh iman dan takwa kepada Allah swt.

2) Dapat mengambil alih pelajaran berasal dari segal penderitaan yang dirasakan sepanjang mengerjakan ibadah haji.

3) Memperkuat fisik dan mental

4) Menumbuhkan dorongan berkorban sebab ibadah haji perlu pengorbanan yang besar, baik tenaga, waktu, maupun biaya.

5) Mengenal area – area bersejarah, seperti Ka’bah, Bukit Safa dan Marwah, sumur zam -zam, dan Hajar Aswad.

Artikel Terkait
Badal Haji & Travel Haji Umrah