Home » Uncategorized » Bisnis Lobster Mutiara yang Menggiurkan

Hasil gambar untuk manfaat lobster mutiara

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tengah gencar memerangi praktik penyelundupan benih lobster ke Vietnam. Bisnis ekspor ilegal komoditas ini memberi keuntungan berlipat bagi Vietnam, namun mematikan nelayan Indonesia.

Menurut Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) KKP, Rina, larangan penangkapan atau menjual beli lobster, kepiting, dan rajungan dari wilayah NKRI masih berlaku hingga pas ini.

Larangan berikut diatur didalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 56 Tahun 2016 tentang Larangan Penangkapan Dan/Atau Pengeluaran Lobster, Kepiting, dan Rajungan dari Wilayah NKRI.

“Tapi ada orang yang tergiur menangkap dan memperjualbelikan, lebih-lebih menyelundupkan benih lobster maupun kepiting bertelur karena iming-iming rupiah,” kata Rina pas berbincang dengan wartawan di kantornya, Jakarta, Senin (27/2/2017).

Dirinya menjelaskan, pengiriman, pengangkutan, perdagangan, dan usaha penyelundupan benih lobster di Indonesia paling marak model lobster batik, bambu, pasir, dan mutiara. Paling marak penangkapan dan ekspor ilegal model lobster mutiara karena harganya yang lumayan mahal dibanding tiga model lain.

“Harga yang paling tinggi model mutiara. Satu ekor benih lobster mutiara sebesar kelingking dihargai Rp 60 ribu per ekor di pengepul, namun hingga di Vietnam dijual Rp 130 ribu per ekor,” dia menerangkan.

Sementara benih lobster model pasir, lanjut Rina, harganya cuma Rp 15 ribu-Rp 20 ribu per ekor di Indonesia. Setelah hingga ke Vietnam diharga lebih mahal Rp 60 ribu per ekor.

“Oleh Vietnam, lobster itu dibesarkan dan nelayan mereka bisa panen dan menjual lobster hingga Rp 1 juta per Kilogram (Kg). Wong di sini saja makan lobster di restoran Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta per Kg,” Rina memaparkan.

Lanjutnya, penyelundupan lobster dari Indonesia ke Vietnam minimal satu koper sekitar 10 ribu-12 ribu ekor. Artinya, 12 ribu ekor dikalikan Rp 1 juta supaya potensi kerugian capai Rp 12 miliar.

Akan namun faktanya, dia bilang, satu kali pengiriman ilegal capai dua atau tiga koper yang artinya capai 36 ribu ekor benih lobster.

“Dikalikan saja potensi kerugian Indonesia terkecuali lobster itu tumbuh besar. Jadi kita minta nelayan untuk sabar, tidak usah buru-buru ditangkap, biarkan besar dan yang bakal nikmati keuntungan kan nelayan juga,” pinta Rina.

Dia menjelaskan, sumber utama benih lobster model mutiara banyak terdapat di perairan Mataram, Lombok, dan Jawa Timur. Negara obyek utama penyelundupan, diakuinya, yang terbesar pas ini Vietnam dan Singapura.

“Memang ada pasar gelapnya di Vietnam,” Rina menegaskan.

Dengan maraknya penyelundupan benih lobster, dia menerangkan, Vietnam kini menjadi pengekspor lobster terbesar. Padahal beberapa th. sebelumnya, Indonesia yang memimpin pasar ekspor lobster ke negara lain.

“Dulu semua nelayan nunggu lobster ukuran besar baru ditangkap. Makanya grafik ekspor kita 2013-2014 hingga 45 ribu ton lobster. namun saat ini orang menganggap menjual benih demi keuntungan khusus dan negara lain yang mendapatkan hasil akhirnya,” keluhnya.

Menurut Rina, pemerintah lewat KKP konsisten lakukan sosialisasi kepada para nelayan sebagai cara preventif atau pencegahan ekspor ilegal benih lobster. Bahkan Menteri Susi sudah bertindak melobi pemerintah Vietnam untuk bersama-sama memberantas praktik tersebut.

“Kerja serupa dengan Vietnam sudah kita cobalah berulang-kali kirim nota dinas. Tim terhitung tengah melobi pemerintah Vietnam untuk menutup itu (pintu ekspor ilegal). Bu Susi terhitung sudah bertindak, namun persepsi kita tidak sama, mereka menjadi itu merupakan penghidupan rakyatnya,” Rina mengungkapkan.

Untuk diketahui, KKP dengan Kepolisian RI sudah menanggulangi 53 masalah penyelundupan benih lobster dan kepiting bertelur sepanjang 2016. Sementara didalam kurun pas 3 Februari-22 Februari 2017, KKP dan Polri menindak jaringan sindikat penyelundupan benih lobster di 5 Tempat Kejadian Perkara (TKP), yaitu Denpasar, Bandara Internasional Ngurah Rai, Bandara Internasional Lombok, Kota Mataram, dan Surabaya.

Sebanyak 9 orang tersangka penyelundupan benih lobster sudah diringkus didalam masalah penyelundupan 65.699 benih lobster. Potensi kerugian negara yang berhasil diselamatkan capai Rp 7,07 miliar.